Kembali ke Blog
Edukasi
8 menit

Bruxism pada Anak: Mengapa Anak Menggertakkan Gigi Saat Tidur?

Penulis

Dr. drg. Renie Kumala Dewi, Sp.KGA

Terbit

18 Juli 2026

Bruxism pada Anak: Mengapa Anak Menggertakkan Gigi Saat Tidur?

Bruxism Anak: Ketika Gigi Bergemeretak di Malam Hari

"Dok, setiap malam anak saya bunyi giginya keras sekali waktu tidur, seperti mengunyah sesuatu. Apakah itu berbahaya?" Keluhan ini sangat umum kami dengar dari orang tua di Renie Dent Banjarmasin. Suara gemeretak gigi anak di tengah malam memang bisa membuat orang tua khawatir.

Bruxism pada anak adalah kebiasaan menggertakkan atau menggeretakkan gigi secara tidak sadar, paling sering terjadi saat tidur (sleep bruxism), yang dialami oleh sekitar 15-33% anak-anak dan umumnya berhenti sendiri sebelum gigi permanen lengkap. Meskipun kebanyakan kasus bruxism pada anak tidak berbahaya, beberapa kasus memerlukan perhatian khusus jika sudah menyebabkan kerusakan gigi atau keluhan nyeri.

Menurut American Academy of Sleep Medicine (AASM), sleep bruxism termasuk dalam kategori gangguan gerakan terkait tidur dan prevalensinya paling tinggi pada anak usia prasekolah. Data dari Journal of Dental Research menunjukkan bahwa bruxism pada anak dua hingga tiga kali lebih umum dibandingkan pada orang dewasa.


Penyebab Bruxism pada Anak

Berbeda dengan bruxism pada orang dewasa yang seringkali terkait stres pekerjaan, bruxism pada anak bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dan seringkali merupakan kombinasi dari beberapa penyebab sekaligus:

1. Fase Perkembangan Normal

Ini adalah penyebab paling umum bruxism pada anak. Saat gigi susu dan gigi permanen sedang tumbuh, anak secara alami menggertakkan gigi untuk "menyesuaikan" gigitan mereka. Bruxism jenis ini bersifat fisiologis (normal) dan biasanya hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia.

2. Stres dan Kecemasan

Anak-anak juga bisa mengalami stres, meskipun pemicunya berbeda dari orang dewasa. Perubahan lingkungan seperti masuk sekolah baru, kelahiran adik, perceraian orang tua, atau bahkan ujian di sekolah bisa memicu bruxism. Anak yang cemas cenderung menegang otot rahangnya secara tidak sadar saat tidur.

3. Maloklusi (Gigitan Tidak Normal)

Ketika gigi atas dan bawah tidak bertemu dengan sempurna (maloklusi), anak mungkin secara tidak sadar menggertakkan giginya untuk mencari posisi yang nyaman. Ini sering terjadi pada fase pergantian gigi susu ke gigi permanen.

4. Gangguan Tidur (Sleep Apnea)

Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara bruxism dan obstructive sleep apnea pada anak. Anak yang tidur dengan mulut terbuka, mendengkur keras, atau sering terbangun di malam hari memiliki risiko bruxism yang lebih tinggi. Bruxism dalam kasus ini bisa menjadi mekanisme tubuh untuk membuka jalan napas yang tersumbat.

5. Efek Samping Obat

Beberapa jenis obat, terutama obat untuk ADHD (seperti methylphenidate), antidepresan, dan obat antihistamin, bisa memicu atau memperburuk bruxism pada anak.

6. Kondisi Medis Tertentu

Anak dengan ADHD, cerebral palsy, epilepsi, atau gangguan perkembangan lainnya memiliki prevalensi bruxism yang lebih tinggi dibandingkan anak-anak pada umumnya.


Tanda-tanda Bruxism pada Anak

Karena bruxism paling sering terjadi saat anak tidur, orang tua sering menjadi pihak pertama yang menyadarinya. Berikut tanda-tanda yang perlu diperhatikan:

Tanda yang Didengar/Dilihat Orang Tua:

  • Suara gemeretak dari kamar anak saat tidur malam
  • Gerakan rahang yang ritmis dan berulang saat tidur
  • Anak menggigit kuat-kuat bahkan saat tidak makan

Tanda yang Dikeluhkan Anak:

  • Sakit rahang atau otot wajah saat bangun pagi
  • Sakit kepala terutama di area pelipis saat bangun tidur
  • Gigi terasa ngilu atau sensitif terhadap makanan panas dan dingin
  • Telinga terasa sakit (karena sendi rahang berdekatan dengan telinga)

Tanda yang Ditemukan Dokter Gigi:

  • Permukaan gigi tampak aus, rata, atau terkikis
  • Email gigi retak-retak halus (craze lines)
  • Gusi mengalami resesi (turun) di area gigi tertentu
  • Otot rahang (masseter) terasa tegang atau membesar

Bruxism Normal vs Bruxism yang Perlu Ditangani

Tidak semua bruxism memerlukan penanganan. Berikut panduan untuk membedakan bruxism fisiologis (normal) dan bruxism patologis (perlu ditangani):

Aspek Bruxism Fisiologis (Normal) Bruxism Patologis (Perlu Ditangani)
Usia Umumnya 3-6 tahun (fase gigi susu) Bisa di segala usia, terutama jika berlanjut setelah gigi permanen lengkap
Frekuensi Sesekali, tidak setiap malam Hampir setiap malam atau sangat sering
Durasi per episode Singkat, beberapa detik Lama, bisa bermenit-menit
Kerusakan gigi Tidak ada atau minimal Gigi tampak aus, rata, atau retak
Keluhan nyeri Tidak ada Sakit rahang, sakit kepala, gigi sensitif
Dampak tidur Tidur tetap nyenyak Tidur terganggu, anak sering terbangun
Kondisi penyerta Tidak ada Ada gangguan tidur, stres, atau kondisi medis lain

Pedoman penting: Jika bruxism anak tidak menyebabkan kerusakan gigi, tidak menimbulkan nyeri, dan tidak mengganggu tidur, kemungkinan besar itu adalah bruxism fisiologis yang akan hilang sendiri. Tetapi jika Anda ragu, konsultasikan ke dokter gigi anak untuk evaluasi.


Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Gigi Anak?

Segera konsultasikan ke dokter gigi anak jika Anda melihat satu atau lebih tanda berikut:

  1. Permukaan gigi anak tampak rata atau terkikis saat Anda memeriksanya
  2. Anak sering mengeluh sakit rahang atau sakit kepala di pagi hari
  3. Gigi anak menjadi sensitif terhadap makanan atau minuman panas dan dingin
  4. Suara gemeretak terdengar sangat keras dan terjadi hampir setiap malam
  5. Anak sulit tidur nyenyak atau sering terbangun di malam hari
  6. Bruxism berlanjut setelah usia 6-7 tahun (gigi permanen mulai tumbuh)
  7. Anak menunjukkan tanda-tanda mendengkur keras atau tidur dengan mulut terbuka

Di Renie Dent, kami akan melakukan pemeriksaan menyeluruh termasuk evaluasi permukaan gigi, otot rahang, pola oklusi (gigitan), dan jika diperlukan, rontgen untuk melihat kondisi akar gigi dan sendi rahang.


Penanganan Bruxism pada Anak

Penanganan bruxism pada anak bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya. Berikut pendekatan yang umum digunakan:

1. Observasi dan Pemantauan

Untuk bruxism fisiologis ringan, observasi seringkali merupakan pendekatan terbaik. Dokter gigi anak akan memantau kondisi gigi setiap kunjungan kontrol rutin (setiap 6 bulan) untuk memastikan tidak ada kerusakan yang progresif.

2. Night Guard (Pelindung Gigi Malam)

Untuk bruxism yang sudah menyebabkan keausan gigi atau keluhan nyeri, dokter gigi anak bisa membuat night guard custom yang disesuaikan dengan cetakan gigi anak. Night guard berfungsi sebagai bantalan antara gigi atas dan bawah sehingga mencegah kerusakan lebih lanjut.

Catatan penting: Night guard pada anak harus dievaluasi dan diganti secara berkala karena rahang anak masih tumbuh. Night guard yang tidak pas bisa mengganggu pertumbuhan gigi dan rahang.

3. Manajemen Stres

Jika bruxism dipicu oleh stres atau kecemasan, pendekatan berikut bisa membantu:

  • Rutinitas tidur yang konsisten dan menenangkan (mandi air hangat, membaca buku, menghindari layar 1 jam sebelum tidur)
  • Teknik relaksasi sederhana sebelum tidur (latihan pernapasan dalam, relaksasi otot progresif)
  • Bicarakan dengan anak tentang apa yang membuatnya khawatir
  • Jika stres berat, pertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak

4. Koreksi Oklusi

Jika bruxism disebabkan oleh maloklusi (gigitan tidak normal), dokter gigi anak mungkin merekomendasikan koreksi oklusi melalui penyesuaian gigitan (selective grinding) atau perawatan ortodonti seperti behel di usia yang tepat.

5. Penanganan Gangguan Tidur

Jika bruxism terkait dengan sleep apnea atau gangguan tidur lainnya:

  • Evaluasi apakah anak memiliki adenoid atau tonsil yang membesar (penyebab umum sleep apnea pada anak)
  • Konsultasi dengan dokter THT jika diperlukan
  • Perbaiki posisi tidur dan lingkungan kamar anak

6. Review Obat-obatan

Jika anak mengonsumsi obat yang bisa memicu bruxism, diskusikan dengan dokter yang meresepkan untuk kemungkinan penyesuaian dosis atau penggantian obat.


Tips Mengurangi Bruxism Anak di Rumah

Orang tua bisa melakukan beberapa langkah sederhana untuk membantu mengurangi bruxism anak:

  1. Batasi aktivitas fisik intens menjelang tidur. Biarkan anak tenang minimal 1 jam sebelum waktu tidur
  2. Pijat lembut otot rahang anak sebelum tidur. Letakkan jari di depan telinga anak dan pijat dengan gerakan memutar selama 1-2 menit
  3. Kompres hangat pada rahang selama 10-15 menit sebelum tidur bisa membantu merelaksasi otot
  4. Hindari permen karet atau makanan kenyal berlebihan di siang hari karena membuat otot rahang "terlatih" untuk terus aktif
  5. Pastikan anak cukup minum air sepanjang hari karena dehidrasi bisa memperburuk bruxism
  6. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman: ruangan gelap, suhu sejuk, dan jauh dari kebisingan

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan Orang Tua

Apakah bruxism pada anak berbahaya?

Dalam kebanyakan kasus, bruxism pada anak tidak berbahaya dan akan hilang sendiri seiring pertumbuhan. Sekitar 50% anak yang mengalami bruxism berhenti sebelum usia remaja. Namun, bruxism menjadi masalah jika sudah menyebabkan keausan gigi, nyeri rahang, atau gangguan tidur yang signifikan. Konsultasikan ke dokter gigi anak jika Anda melihat tanda-tanda kerusakan gigi.

Apakah bruxism bisa merusak gigi permanen anak?

Bisa, jika bruxism berlanjut setelah gigi permanen tumbuh dan terjadi dengan intensitas tinggi. Kerusakan meliputi email gigi yang aus dan menipis, gigi menjadi lebih pendek, permukaan kunyah yang rata, dan peningkatan sensitivitas gigi. Gigi permanen yang rusak karena bruxism tidak bisa tumbuh kembali, sehingga penanganan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan permanen.

Berapa usia anak biasanya berhenti bruxism?

Menurut AAPD, kebanyakan anak berhenti bruxism secara alami di usia 6-9 tahun, yaitu saat gigi permanen anterior (depan) sudah tumbuh lengkap. Namun, sebagian kecil anak terus mengalami bruxism hingga remaja atau bahkan dewasa. Jika bruxism masih berlanjut setelah usia 10 tahun, sebaiknya dikonsultasikan ke dokter gigi untuk evaluasi lebih lanjut.

Apakah anak perlu memakai night guard?

Night guard direkomendasikan jika bruxism anak sudah menyebabkan keausan gigi yang jelas atau keluhan nyeri. Untuk bruxism ringan tanpa kerusakan, night guard umumnya belum diperlukan. Night guard untuk anak harus dibuat custom oleh dokter gigi (bukan beli jadi di apotek) dan perlu dievaluasi secara berkala karena rahang anak masih tumbuh.

Apakah bruxism berhubungan dengan cacingan?

Ini adalah mitos yang sangat populer di masyarakat, terutama di Indonesia. Banyak orang tua percaya bahwa anak yang menggertakkan gigi pasti cacingan. Faktanya, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah kuat yang menghubungkan infeksi cacing dengan bruxism. Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam Journal of Oral Rehabilitation (2015) menyimpulkan bahwa hubungan antara parasit usus dan bruxism tidak terbukti secara ilmiah. Jika Anda khawatir anak cacingan, konsultasikan ke dokter anak untuk pemeriksaan yang tepat.

Bagaimana cara mengurangi bruxism anak di rumah?

Beberapa langkah yang bisa membantu meliputi: menciptakan rutinitas tidur yang menenangkan (tanpa layar 1 jam sebelum tidur, membaca buku, atau mendengarkan musik lembut), memijat lembut otot rahang anak sebelum tidur, mengurangi stres dengan bicara terbuka tentang kekhawatiran anak, dan menghindari makanan atau minuman berkafein seperti cokelat dan minuman bersoda menjelang malam. Jika langkah-langkah ini tidak membantu, konsultasikan ke dokter gigi anak.

Apakah bruxism menurun dari orang tua?

Ya, ada faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang orang tuanya mengalami bruxism memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami bruxism juga. Jika Anda atau pasangan memiliki riwayat bruxism, perhatikan tanda-tanda serupa pada anak dan informasikan hal ini kepada dokter gigi saat konsultasi.

Apakah bruxism bisa muncul kembali setelah sempat berhenti?

Bisa. Bruxism yang sudah berhenti bisa kambuh saat anak mengalami tekanan emosional, perubahan lingkungan, atau fase pertumbuhan gigi baru. Misalnya, anak yang sudah tidak bruxism sejak usia 5 tahun bisa mengalaminya lagi saat geraham permanen tumbuh di usia 6-7 tahun atau saat menghadapi tekanan di sekolah. Kekambuhan ini biasanya bersifat sementara.


Kesimpulan

Bruxism pada anak adalah kondisi yang umum terjadi dan dalam kebanyakan kasus tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Sebagian besar anak akan berhenti menggertakkan gigi secara alami seiring pertumbuhan mereka.

Namun, orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda bruxism patologis seperti gigi yang tampak aus, keluhan sakit rahang atau sakit kepala di pagi hari, dan gangguan tidur. Deteksi dini dan penanganan tepat bisa mencegah kerusakan permanen pada gigi anak.

Jangan percaya mitos bahwa bruxism selalu berarti cacingan. Penyebab bruxism pada anak jauh lebih beragam, mulai dari fase perkembangan normal hingga stres dan gangguan tidur.

Di Renie Dent Banjarmasin, kami menyediakan evaluasi lengkap untuk bruxism pada anak, termasuk pemeriksaan keausan gigi, evaluasi oklusi, dan jika diperlukan, pembuatan night guard custom yang aman untuk anak. Konsultasikan kondisi anak Anda untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Untuk konsultasi dan pemeriksaan gigi anak di Banjarmasin, kunjungi:

Renie Dent – Dokter Gigi Anak & Keluarga Banjarmasin
www.reniedent.id
Melayani pasien dari bayi hingga dewasa dengan pendekatan yang sabar, edukatif, dan ramah anak.


Referensi:
American Academy of Sleep Medicine (AASM). (2023). International Classification of Sleep Disorders, 3rd Edition.
American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). (2023). Policy on Oral Habits.
Lobbezoo F, et al. (2018). International Consensus on the Assessment of Bruxism. Journal of Oral Rehabilitation, 45(11): 837-844.
Machado E, et al. (2015). Prevalence of Sleep Bruxism in Children: A Systematic Review. Journal of Oral Rehabilitation, 41(10): 756-768.
Dewi RK, Saskianti T (2023). Pemeriksaan dan Penegakan Diagnosis Gigi Anak. Sagung Seto.

Berbagi Edukasi

Bantu orang tua lain memberikan yang terbaik bagi si kecil.